Upaya Penanggulangan HIV/AID di Batang

Februari 2, 2010 at 11:26 am Tinggalkan komentar

UPAYA PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI BATANG
Oleh : Muhamad Imron
Kabupaten Batang merupakan daerah yang mempunyai potensi cukup besar bagi penularan HIV/AIDS di Jawa Tengah. Hal ini dapat kita saksikan dengan menjamurnya sejumlah warung remang-remang yang berderetan hampir di sepanjang jalur pantura Kabupaten Batang. Keberadaan warung-warung kecil dipinggiran jalan tersebut, pada umumnya tidak hanya digunakan sebagai transit para trucker untuk sekedar istirahat saja, tetapi sebagian dimanfaatkan untuk tempat jajanan nafsu para hidung belang atau lokalisasi. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh bagi berkembangnya penularan HIV/AIDS.
Berdasarkan yang dihimpun dari klinik Inveksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS KPA Kabupaten Batang hingga Desember 2008, setidaknya ada sekitar 52 orang yang terjangkit virus HIV/AIDS. Semnatar dari data klinik IMS-VCT Puskesmas Banyuputih sampai dengan November 2009 terdapat 64 kasus HIV/AIDS, 10 orang diantaranya AIDS sedangkan yang 6 meninggal dunia. Di Kabupaten Batang penularan HIV/AIDS utamanya terjadi pada kelompok populasi kunci yang melakukan hubungan seksual beresiko, bahwa dari 64 kasusu tersebut, 50 orang WPS, 4 pria resiko tinggi, 3 waria, 3 orang ibu rumah tangga, 3 orang TB-HIV, dan gay 1 orang. Angka ini tentunya akan terus bertambah jika tidak ada penanganan secara serius.
Berbagai upaya penaggulangan telah dilakukan untuk meminimalisir perkembangan penyakit mematikan ini. Dalam hal ini pemerintah daerah merangkul berbagai lembaga, komunitas peduli HIV/AIDS, perwakilan Ormas, LSM, tenaga pendidik dan pelajar, serta lembaga resourse di sekitar lokalisasi. Bentuk preventif yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan berbagai macam program dan kegiatan yang mengacu pada rencana aksi nasional penanggulangan HIV/AIDS dan Renstra KPA Kabupaten Batang. Diantaranya adalah dengan melakukan sosialisasi kesadaran pemakaian alat kontrasepsi, pemeriksaan IMS HIV/AIDS dan VCT (Voluntary Conseling and Testing) secara berkala, serta melakukan pendekatan dan pembentukan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Bahkan pada peringatan hari AIDS sedunia pada tanggal 1 Desember 2009 lalu, pemerintah bekerja sama dengan beberapa lembaga, pelajar dan masyarakat melakukan street campaign atau aksi solidaritas dan sosialisasi HIV/AIDS di jalan. Pemerintah juga melakukan sosialisasi penggunaan kondom dan HIV/AIDS (Tragetted Multi Media Campaign) dengan media hot spot di Banyuputih.
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, pemerintah menyediakan layanan pemeriksaan IMC-VCT pada Klinik IMS-VCT Puskesmas Banyuputih (sejak 2006) dan klinik VCT-CST RSUD Kabupaten Batang yang mulai beroperasi pada November 2009. Untuk media informasi tentang HIV/AIDS dan sosialisasi, pemerintah menjalin kerjasama dengan sejumlah lembaga (komunitas) peduli HIV/AIDS, diantaranya adalah Family Health International (FHI) di bawah lembaga internasional USAID, Gesang, Graha Mitra dan Pelita dengan masing-masing wilayah pendampingan yang berbeda.
Meskipun terdapat belasan lokalisasi, setidaknya hanya ada tujuh titik yang menjadi daerah pendampingan prioritas dan dianggap berpotensi besar bagi penyebaran HIV/AIDS. ketujuh daerah tersebut antara lain adalah daerah nonlok Surodadi, Resos Penundan, Resos Banyuputih, nonlok Wuni, Jrakah Payung, Boyongsari dan Bong Cina.

Problem di Lapangan
Berbagai kendala banyak ditemukan di lapangan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS, terutama di daerah rawan (lokalisasi). Kendala-kendala itu tidak hanya terjadi pada kelompok populasi kunci saja, tetapi banyak juga bersumber dari pengelola resourse. Bahkan ada sebagain dari mereka yang justru memanfaatkan situasi dengan melakukan penarikan kontribusi kepada para WPS dalam pemeriksaan yang seyogyanya dilakukan secara gratis. Ironisnya lagi, mereka yang sudah membayar administrasi tidak diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan. Hal ini barangkali dikarenakan minimnya komunikasi dan kerjasama antara petugas lapangan dengan pengelola resourse. Karena itulah, pemerintah daerah hendaknya bersikap lebih tegas terhadap Pokja yang telah dibentuk di masing-masing kecamatan agar lebih serius dalam menangani upaya penanggulangan HIV/AIDS.
Dan upaya yang cukup efektif adalah dengan memberikan pemahaman tentang dampak negatif HIV/AIDS bagi kehidupan jangka panjang, serta memberikan bekal (life skill) pada kelompok populasi kunci rawan HIV/AIDS agar lebih yakin untuk hidup mandiri, sehingga tidak terjerumus dalam dunia malam. Tidak hanya berhenti sampai disini saja, kita juga harus memberikan motivasi dan toleransi kepada penderita (ODHA) untuk hidup berdampingan dalam masyarakat.
Maka peran serta masyarakat dan komitmen pemerintah menjadi sebuah keniscayaan yang tak terelakkan dalam upaya preventif penganggulanga virus mematikan ini. Dengan kerjasama yang baik inilah akan terbentuk sebuah aliansi besar untuk menghadapi HIV/AIDS di Kabupaten Batang. Sehingga akses informasi, perawatan, penanggulangan dan upaya pencegahannya akan mudah dilakukan oleh masyarakat luas. Semoga bermanfaat.

Muhamad Imron
Penulis adalah
Ketua PC IPNU Batang

Entry filed under: Seputar Batang. Tags: .

Mengamati Pelaksanaan Musrenbang Kabupaten Batang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip


%d blogger menyukai ini: