POTENSI HIV/AIDS KABUPATEN BATANG

Februari 2, 2010 at 12:10 pm Tinggalkan komentar

POTENSI HIV/AIDS KABUPATEN BATANG
Oleh : Muhamad Imron

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS (Acquired Immunedeficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala dan tanda penyakit. Penularan virus ini akan terjadi apabila ada kontak atau percampuran dengan cairan tubuh yang mengandung HIV. Antara lain melalui hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV, melalui tranfusi darah dan transpalasi organ yang tercemar oleh HIV, alat/jarum suntik yang tidak steril bahkan melalui ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin yang dikandungnya. Ironisnya, penyakit ini hingga saat ini belum ditemukan obatnya.
Epidemi HIV/AIDS di Asia dan Pasifik cenderung meningkat lebih pesat terutama di negara dengan jumlah penduduk besar seperti China, India dan Indonesia. Meskipun tingkat penularan pada populasi umum masih rendah, tetapi jumlah absolut yang terinfeksi cukup besar. Tahun 2005 di perkirakan 39,4 juta orang dgn HIV/AIDS (ODHA) di dunia, 90 % di negara berkembang. Bahkan berdasarkan data pada tahun 2007 jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 9.689 kasus, 82 persen diantaranya menimpa penderita usia produktif (Republika, 12/11/07). Bahkan angka penularan inveksi HIV/AIDS tahun 2010 diprediksikan akan meningkat tajam antara 1-5 juta dengan angka kumulatif berkisar antara 93.968 – 130.000 kasus. Hal ini tentunya berdampak pada aspek sosial, ekonomi, kesehatan dan politik.
Penyebaran virus mematikan ini tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi sudah merambah ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Di Jawa misalnya, diantara daerah yang cukup rentan adalah sepanjang jalur pantura, terutama dengan hadirnya lokalisasi dan warung remang-remang, baik legal maupun illegal. Berdasarkan data tahun 1993 s/d 30 Maret 2006 terdapat 738, dan 83 kasus ( 62,87 % ) meninggal. Diantara daerah pantura di Jawa Tengah yang potensial bagi penularan HIV/AIDS adalah kawasan Alas Roban Kabupaten Batang yang merupakan titik lelah perjalanan truckers. Bahkan kabupaten ini menjadi daerah prioritas di Jawa Tengah.
Setidaknya ada belasan lokalisasi yang rawan dengan penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Batang. Maka untuk mengurangi angka penularan HIV/AIDS, pemerintah Kabupaten Batang yang dalam hal ini dibidangi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) bersama-sama dengan LSM dan unsur masyarakat melakukan pendampingan. Diantaranya organisasi-organisasi tersebut adalah Family Health International (FHI), United States Agency International Development (USAID), PC. Fatayat NU Kab. Tegal, Gesang dan Graha Mitra dengan masing-masing wilayah pendampingan. Fatayat NU mendampingi WPS/PSK dan Truckers, Gesang mendampingi Gay dan Graha Mitra terfokus pada pendampingan waria.
Meskipun terdapat belasan lokalisasi, hanya ada tujuh titik yang menjadi daerah pendampingan prioritas dan dianggap berpotensi besar bagi penyebaran virus tersebut. Diantaranya adalah daerah nonlok Surodadi, Resos Penundan, Resos Banyuputih, nonlok Wuni, Jrakah Payung, Boyongsari dan Bong Cina.
Berdasarkan data yang dihimpun dari klinik Inveksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS KPA Kabupaten Batang (Desember 2008), setidaknya ada sekitar 52 orang yang terjangkit virus HIV/AIDS. Angka ini akan terus bertambah jika tidak ada penanganan secara serius. Bentuk upaya yang sudah dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi kesadaran pemakaian alat kontrasepsi, pemeriksaan IMS HIV/AIDS dan VCT (Voluntary Conseling and Testing) secara berkala setiap bulan sekali. Tidak hanya sosialisasi saja, mereka juga membagikan alat kontrasepsi secara gratis. Namun demikian, hanya sekitar 10 s.d 15 % saja yang secara rutin menggunakan alat kontrasepsi. Alasan sebagian dari mereka adalah “kenyamanan”.

Tanggung Jawab Bersama
Virus mematikan ini seharusnya menjadi isu bersama yang membutuhkan tanggung jawab bersama pula, yaitu antara ulama, umaro atau pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membentuk Pokja yang berasal dari unsur Kepolisian, Koramil dan pemerintah kecamatan setempat di setiap lokalisasi.
Pemerintah juga harus melakukan upaya preventif untuk mengurangi meningkatnya angka penularan HIV/AIDS dikalangan WPS/PSK dan wanita-wanita rawan sosial lainnya, yaitu dengan menertibkan warung remang-remang yang berpotensi menjamurnya lokalisasi terselubung di sepanjang pantura, sehingga pemantauan akan lebih terkontrol. Yang tidak kalah pentingnya adalah dengan memberikan bekal ketrampilan (life skill) yang berorientasi pada kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dengan bekal ketrampilan ini diharapkan akan mampu menggugah kemandirian ekonomi masyarakat dan mampu mengurangi kecenderungan mereka untuk terjun dalam ‘dunia esek-esek’ dengan alasan mendasar mereka adalah ‘faktor ekonomi’.
Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) merupakan bagian dari lingkungan sosial kita, bukan momok menakutkan yang harus selalu dijauhi. Sebaliknya, kita harus memberikan dukungan moral agar mereka bisa hidup berdampingan dengan kita, lebih-lebih berkenan meninggalkan dunia lamanya. Semoga bermanfaat.
Dimuat pada Wacana Lokal Suara Merdeka edisi 16/06/2009

Entry filed under: Seputar Batang. Tags: .

Mengawal Penyaluran Dana Pendidikan GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERJUANGAN DAN PENGEMBANGAN IPNU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Arsip


%d blogger menyukai ini: